Manfaat Transfusi Sel Darah Merah

Memaksimalkan penghantaran oksigen dan konsumsi oksigen pad apasien dengan sakit kritis telah disepakati secara bersama selama kurang lebih dua dekade. Pendekatan ini telah memberikan hasil yang baik yang ditunjukkan melalui penelitian oleh Shoemaker et. Al, yang menyarankan bahwa tingkat penghantaran oksigen yang dibawah normal dan kegunaannya pada pasien pembedahan yang mengalami masa kritis telah menunjukkan kemajuan secara klinis.

Meskipun demikian, percobaan secara prospektif berikutnya dan beberapa meta-analisis yang terakhir telah gagal untuk menunjukkan manfaatnya untuk meningkatkan jumlah penghantaran oksigen diatas nilai normal dan penggunaan oksigen dan telah menunjukkan bahwa strategi ini akan memberikan hasil yang buruk dan meningkatkan mortalitas.

Transfusi sel darah merah pada umumnya bermanfaat untuk meningkatkan penghantaran oksigen ke jaringan dan juga untuk memperbaiki oksigenasi jaringan, terutama dalam kondisi syok. Pendekatan yang dipakai untuk terapi ini adalah peningkatan hemoglobin akan meninngkatkan kapasites pengangkutan oksigen dari darah yang kemudian akan membawanya ke jaringan yang sangat bergantung pada penghantaran tersebut.

Meskipun demikian, sel darah merah yang disimpan mengandung kadar p50 yang rendah yang akan meningkatkan afinitas hemoglobin pada oksigen dan dengan cara mengurangi jumlah oksigen yang dilepas ke jaringan (pergeseran kurva disosiasi oksigen ke kiri).

Pada akhirnya kadar 2,3 diphosphoglycerate (2,3 DPG) dan ATP akan habis dalam darah yang disimpan, dan fungsi transport oksigen pada sel darah merah menjadi tidak adekuat lagi.

Beberapa penelitian memandang bahwa manfaat transfusi sel darah merah untuk meningkatkan konsumsi oksigen jaringan dan untuk memperbaiki mikrosirkulasi telah menghasilakn berbagai perdebatan. Penelitian klinis tidak konsisten menunjukkan bawha terapi ini dapat bermanfaat unutk meningkatkan penggunaan oksigen ada seluruh tubuh atau pada organ tertentu.

Sementara beberapa penelitian lainnya mengevaluasi hemodinamik dan parameter oksigen yang ditransport sebelum dan setelah transfusi sel darah merah pada pasien kritis, menunjukkan beberapa kemajuan yang bermakna.

Beberapa grup pada pasien kritis mungkin berespon pada transfusi selk darah merah ? transfusi sel darah merah pada umumnya digunakan untukj meningkatkan transport oksigen pada pasein dengan sepsis dan kondisi syok lainnya. Manfaat yang diharapkan dari transfusi sel darah merah untuk meperbaiki penghantaran oksigen dengan cepat, dan kemudian mencegah cedera seluler.

Pertanyaan mengenai apakah transfusi sel darah merah memperbaiki mikrosirkulasi regional itu penting, sejak tujuan resusitasi adalah memperbaiki perfusi organ dan mencegah gagal pada organ tertentu. Conrad et al. Melakukan penelitian untuk mengetahui efek peningkatan penghantaran oksigen (DO2) yang meningkat di arteri melalui transfusi sel darah merah yang mengikuti resusitasi cairan dalam penanganan syok sepsis pada manusia.

Meskipun terjadi peningkatan penghantaran oksigen, tidak terjadi peningkatan konsumsi oksigen (VO2) atau penurunan kadar laktat. Sebuah analisa menyatakan bahwa pasien dengan rasio ekstraksi oksigen melalui transfusi yang rendah (kurang dari 24 %) memiliki peningkatan yang signifikan pada konsumsi oksigen dengan transfusi darah.

Pada kasus lain, penelitian pada pasien yang mengalami sepsis, transfusi sel darah merah pada pasien sepsis dengan peningkatan serum asam laktat, meskipun terjadi peningkatan DO2, VO2 tidak meningkat seara signifikan setelah transfusi sel darah merah.

Juga telah dicatat bahwa peningkatan pengangkutan O2 dengan dobutamin sebagai kebalikan dari transfusi sel darah merah, lebih efektif untuk memperbaiki asidosis intramukosa pada lambung. Penelitian tambahan juga telah mencatat manfaat dobutamin untuk memperbaiki perfusi ke organ lain pada pasien kritis.

Sel darah merah yang ditransfusikan, terutama pada awal kondisi yang harus di trasnfusi adalah tidak normal. Sel darah merah yang disimpan secara tidak langsung telah kehilangan 2,3 DPG, yang menjadikan kemampuan sel darah merah untuk melepas oksigen menjadi berkurang, dan kerusakan pada sel darah merah. Lama penyimpanan sel darha merah juga penting untuk tetap menjaga manfaat sel darah merah.

Marik dan Sibald memeriksa manfaat dari transfusi sel darah merah pada penyebaran oksigen di sistem gastrointestinal dan seluruh tubuh. Tidak didapatkan peningkatan penggunaan oksigen sistemik yang diukur dengan kalorimetri yang diteliti pada pasien 6 jam post transfusi (termasuk pasien dengan peningkatan konsentrasi laktat dalam arteri).

Yang menarik, terjadi hubungan timbal balik antara perubahan ph intramukosal di lambung dan umur darah yang ditransfusikan sedang di teliti. Pada pasien yang menerima darah yang telah disimpan lebih dari 15 hari, PH intramukosa lambung secara konsisten menurun mengikuti transfusi sel darah merah. Penulis menyatakan bahwa sel darah merah yang ditransfusikan mengalami perubahan bentuk karena oklusi di mikrosirkulasi beberapa organ, yang akan berujung pada iskemik pada organ.

Penelitian lain melakukan demonstrasi pada tikus yang sepsis yang diberi sel darah merah segar (disimpan untuk 3 hari pada sitrat fosfat destrose adenine – 1) penggunaan oksigen secara sistemik meningkat pada hewan, dan yang diberi transfusi sel darah merah yang disimpan lebih dari 28 hari, gagal memenuhi oksigenasi jaringan.

Berlawanan dengan hal ini, Walsh et. al mengevaluasi perubahan PH intramukosa lambung, ukuran perfusi lambung, pada 22 ventilasi mekanik, pasien yang kritis membutuhkan transfusi sel darah merah. Pada penelitian ini, penulis tidak dapat mendeteksi adanya konsekuensi pada pHi dan perubahan pada jarak kadar CO2 mukosa arteri lambung dengan waktu penyimpanan yang lebih dari 20 hari dan dibandingkan dengan pasien yang menerima sel darah merah kurang dari 5 hari. Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa umur rata-rata sel darah merah yang ditransfusikan di Amerika Serikat adalah 21 hari.

Pengaruh penyimpanan sel darah merah terhadap isinya telah diperiksa secara detail oleh beberapa investigasi. Penelitian mencatat bahwa terjadi perubahan yang signifikan pada bentuk sel darah merah yang disimpan mulai minggu kedua dan terus mengalami proses yang berkelanjutan selama penyimpanan.

Bentuk sel darah merah berubah terjadi karena terjadi penurunan pada indeks deformibilitas dan peningkatan hemolisis dan asidosis. Transfusi sel darah merah yang lebih dari 7 hari mungkin akan menyebabkan gangguan pembekuan pada pasien yang mengalami sakit kritis.

Kemudian, penyimpanan sel darah merah yang mengalami perubahan berhubungan dengan daya agregasi sel darah merah. Adanya potensi peningkatan daya agregasi ini harus diperhitungkan saat melakukan transfusi darah, terutama untuk pasien dengan gangguan mikrosirkulasi seperti pasien dengan sakit kritis.

Pada darah yang disimpan untuk persiapan, telah dicatakan bahwa terjadi peningkatan konsentrasi hemoglobin dan leukosit polimorfonuklear yang bebas secara signifikan dengan waktu penyimpanan, dengan resultan peningkatan hemolisis sel darah merah.

Hipotesis sebelumnya, telah memperhatikan munculnya efek tambahan transfusi dengan darah yang disimpan. Sel ferrous hemoglobin yang bebas di plasma, setelah transfusi dengan darah yang telah disimpan, secara cepat menghancurkan nitrit oksida dengan oksidasi methemoglobin dan nitrat.

Nitirit oksida bereaksi setidaknya 1000 kali lebih cepat dengan hemoglobin bebas daripada dengan eritrosit. Nitrit oksida yang terbatas dapat menyebabkan vasokonstriksi regional dan sistemik dan disfungsi organ.

Telah disarankan juga bahwa transfusi darah merupakan faktor resiko untuk multiple organ failure dan hasil yang lebih buruk pada pasien trauma dan pasien pembedahan. Sebuah hipotesis menyatakan bahwa sel darah merah yang disimpan (>14 hari) dapat mengandung PMNs dan menyebabkan multiple organ failure.

Penelitian in vitro yang terakhir memeriksa plasma dari hari ke 42 sel darah merahmengstimulasi pelepasan PMN secara bermakna baik IL-8 dan sekret fosfolipase A2 sebagai perbandingan untuk kontrol dan plasma dari sel darah merah segar. Darah yang telah ditransfusikan merupakan agen inflamasi yang bisa membuat PMN primer yang dapat menyebabkan disfungsi organ.

Sebagai kesimpulan, apakah sel darah merah yang disimpan lebih lama memiliki beberapa konsekuensi klinis? Sebagai catatan diatas, bukti laboratorium menyarankan bahwa sel darah merah yang disimpan lebih lama dapat merusak dan penelitian secara observasi melaporkan beberapa hubungan dengan gambaran klinis akhir seperti kematian dan gagal organ.

Meskipun demikian, percobaan pada 2 orang dewasa muda yang dilaporkan terjadi konsekuensi klinis dari sel darah merah yang disimpan. Masih dibutuhkan beberapa bukti dan pertanyaan tambahan yang lebih potensial untuk mengetahui lebih pasti tentang hal ini.

Loading...